Latar belakang 3. Kehilangan ponakan yang sangat saya cintai, Mariani Manullang.
Membicarakan Anie, rasanya harus mencucurkan air mata. Anie adalah ponakan saya yang sangat tidak beruntung dalam hidupnya. Pada bulan Juni 2006, Anie di deteksi mengidap penyakit kanker payudara, pada usia 32 tahun. Dengan sangat kaget dan tergoncang, saya menerima kabar itu dari keluarga dan harus berusaha untuk tidak menunjukkanya setiap saya bicara dengan Anie melalui telepon. Saya merasa terpukul "hidup ini betul-betul tidak adil", kenapa harus Anie, sedang anak ini adalah anak yang paling halus di dunia ini, dengan hati yang sangat mulia. Anak yang selalu tersenyum dan bisa menerima siapapun. Tapi semua ini harus diserahkan kepada yang Kuasa.
Untuk mengobati luka hati saya, saya menyempatkan diri untuk mengikuti cross country “ribbon walk”, bersama Breast Cancer Care UK (www.breastcancercare.org.uk) bulan Juni 2007, dengan jarak lebih kurang 40km, di Oxford, England dengan ribuan peserta lainya (http://www.justgiving.com/missionwalkers). Ini saya lakukan untuk mengenang penderita kanker lainya yang tidak berhasil sembuh dan berdoa untuk Anie.
Anie, bertahan dengan penyakitnya hingga awal Desember 2007, dan akhirnya meniggalakan kita semua pada tanggal 9 Desember tahun itu, sehari setelah ulang tahun saya. Dengan perasaan kosong dan terpukul, apalagi saat itu saya tidak bisa pulang untuk pemakamanya. Jalan satu-satunya untuk mengenang Anie adalah memikirkan para penderita lainya yang butuh bantuan moril. Dengan suksesnya “ribbon walk” yang saya ikuti tahun itu, saya merencanakan lagi tantangan baru dengan Breast Cancer Care UK, trek (naik gunung) di Peru (http://www.justgiving.com/myloveforanie). Saya berhasil mendaki Lares Valley & Machu Pichu di Peru, dengan ketinggian 4600 meter diatas permukaan laut, trekking selama 6 hari, dan berjalan kaki Selama 10 jam/hari . Dengan suksesnya challenge (tantangan) ini, telah memberikan saya semangat hidup yang lebih tinggi lagi, dan hidup memikirkan orang lain sebagai misi besar dalam hidup ini memberikan kepuasan tersendiri, yang susah diartikan dalam kata-kata. Trek Peru adalah tantangan yang sangat berat, melintasi gunung kering yang membuat kita terkadang tidak bisa bernapas karena "high altitude". Tidur didalam tenda kecil selama 6 malam dengan temperatur dibahwa nol (minus 5C), adalah tantangan berat buat saya, tapi berhasil sampai di puncak Lares, dan mendaki hingga diatas Machu Pichu. (back to top)
Tantangan (challenge) berikutnya yang akan saya ikuti tahun ini adalah Trek di China (bejalan selama enam hari melintasi "The Great Wall of China". Ini akan saya lakukan bulan Oktober mendatang (2009), kalau Tuhan mengijinkan. Challenge ini juga bersama Breast Cancer Care UK. Saya mohon doa restunya. (http://www.justgiving.com/inmemories-of-anie).
Terlibat dengan Project Tapanuli saya lakukan juga untuk mengenang Anie,karena dia juga lahir di Tanah Batak. Juga untuk mengenang among dohot inong (aya/ibu) tersayang yang dua-duanya dimakamkan di Tobasa.
Kalau saya terlibat dengan kerja tanpa pamrih untuk Tanah kelahiran, dengan secara otomatis harus berusaha untuk lebih sering mudik ke Bona ni Pasogit dimasa mendatang. (KEMBALI KE LATAR BELAKANG)