Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Connect – Indonesia.
Project Tapanuli diciptakan sebagai lanjutan dari sebuah cita-cita dan gagasan yang saya utarakan kepada sekelompok anggota komunitas Indonesia di Inggris pada bulan January, tahun 2000 yang lalu. Antara tahun 1994 - 1995, saya bertemu dengan beberapa orang asli Indonesia di Inggris, majoritas wanita Indonesia yang sama posisinya dengan saya, menikah dengan pria Inggris dan menetap di negara itui. Setelah beberapa bulan menjadi anggota komunitas ini, saya mulai aktif ikut kumpulan, arisan, pesta atau kumpulan sosial lainya, sekalipun tidak sangat aktif seperti yang lainya.
Pada tahun 1997 resesi menimpa negeri kita tercinta Indonesia. Jatuhnya status ekonomi kita dari "Tiger Economy" jadi "Collapsed" membuat saya sangat sedih. Antara tahun 1997 - 1999, saya menghabiskan banyak waktu dan dana untuk penelitian dalam produk barang-barang Indonesia yang mungkin bisa dipasarkan di Inggris secara kecil-kecilan, karena kecil-kecilan hanya satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan sesuai kemampuan saya.  Dengan mengunjungi beberapa industry baik industry besar ataupun kecil di sekitar pulau Jawa dan Bali, saya melihat bahwa banyak sekali produk-produk Indonesia yang bisa di tawarkan di Eropah. Sudah beberapa tahun (hingga saat ini), saya telah berusaha membantu beberapa pengusaha kecil di Bali dan Jawa untuk memasarkan " Bali silver beads" baik di Eropah maupun di Amerika. Sejak saya menggandrungi Bali Beads, saya juga belajar untuk merancang perhiasan (jewellery) yang hingga sekarang jadi hobby kesenangan saya, dan menjadi penghasilan sampingan iseng-iseng, dimana 20% penjualanya saya sumbangan untuk Yayasan-yasan (derma/charities) yang saya dukung baik di Inggris maupun di Indonesia. (kembali keatas)
Pada tahun 1999, saya bekerja sebagai Project Coordinator dari Y2K Global Project di Ecomist Intelligence Unit di London, dan bertemu dengan seorang boss yang sangat baik, dimana beliau sering bicara tentang keadaan ekonomi Indonesia. Pada saat bekerja disana, saya juga menyempatkan diri untuk belajar ekonomi international, karena setiap minggu diberikan majalah Economist secara gratis. Peter Moleskwi (boss saya waktu itu), sering memberi saya dorongan dan nasehat tentang research yang saya lakukan, yang membuat semangat saya menjadi berapi-api. Pada pertengahan tahun 1999 saya mengemukakan sebuah gagasan derma kepada beliau dan minta nasehatnya, apakah kira-kira gagasan ini bisa terlaksana? Dia sangat bangga dengan gagasan tersebut dan mengatakan bahwa gagasan ini mungkin bisa sukses kalau bekerja sama dengan orang Indonesia yang berdomisili di Inggris. Gagasan ini kemudian saya utarakan kepada teman-teman dekat dan lahirlah “Connect Indonesia”
Connect Indonesia lahir dengan misi utama untuk membantu ekonomi Indonesia (yang betul-betul ditimpa krisis saat itu) dan juga untuk membantu mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada anak-anak miskin di Indonesia, agar bisa melanjutkan sekolah, terutama sekolah dasar.  Pada awal bulan January tahun 2000, Connect Indonesia mengadakan pekernalan perdananya (launch) yang dihadiri lebih kurang 150 orang, diselenggarakan disebuah restaurant Indonesia di Battersea, London, milik bang Iwan, seorang Putra Indonesia asal Sumatra Barat. Peter Moleskwi bersama istri, juga dengan senang hati mengikuti launch tersebut.(kembali keatas)
Melihat suksesnya pesta perdana tersebut, saya betul-betul berharap bahwa Connect Indonesia akan sangat sukses, apalagi orang-orang Indonesia yang berada di Inggris itu rata-rata punya perekonomian boleh dikatakan cukup makmur. Sayang sekali, cita-cita itu ternyata tidak mudah diterapkan dikomunitas dengan anggota yang berasal dari suku-suku , tingkat perekonomian, tingkat pendidikan atau background lainya yang sangat berbeda. Perbedaan itu sangat kontras, sering menimbulkan semacam perang dingin secara kecil-kecilan diantara para anggota komunitas tersebut, sekalipun mungkin tidak disadari. Hal-hal seperti ini kadang-kadang susah saya terima, apalagi kita-kita itu tinggal jauh dari tanah air. Ini betul-betul membuat saya ciut tapi untung semangat saya ngga sempat sekarat atau terbunuh saat itu. Tapi Connect Indonesia untuk sementara harus di popong lagi lebih lama, disuntik lagi dengan research-research yang baru karena saya selalu beperinsip "Pantang mundur kalau tujuanya halal" dan tidak merugikan orang lain. Apaglagi kalau ini adalah perkerjaan tanpa pamrih, jalan beramal dan bersedekah. Akhirnya gagasan Connect Indonesia itu harus di analisa lagi, mencari jalan lain untuk menerapkanya, dari pada menyia-nyiakan tenaga, dana ataupun pengorbanan pemikiran tanpa rencana yang matang.(kembali keatas)
Terus terang, saya menemukan banyak sekali orang-orang Indonesia yang betul-betul super baik, intelligent dan liberal, dan menjadi sahabat sangat baik hingga sekarang. Tapi dalam sisi lain, saya juga menemukan orang-orang yang betul-betul menjatuhkan semangat, ada yang super kuno, ada yang super sombong, ada yang super hura-hura, banyak yang tidak bisa bersikap serius dan dewasa. Ya biasalah dalam hidup kita ini, setiap kita itu punya sifat dan kelakuan masing-masing, itulah keunikan dan kelebihan umat manusia itu.
Salah paham akan misi dari Connect Indonesia dari beberapa penggemarnya saat itu, juga menghalangi misi yang sebenarnya. Banyak diantara teman-teman yang menduga bahwa Connect Indonesia itu hanyalah perkumpulan arisan dan penyelenggara pesta-pesta. Connect Indonesia memang betul-betul ingin mempromosikan persahabatan diantara sesama penduduk Indonesia di Inggris dan menjadikan acara arisan dan pesta-pesta sosial sebagai sarana pengembanganya saat itu, tapi arisan dan pesta-pesta bukanlah misi utamanya. Jadi Connect Indonesia dihidupkan lagi dengan alasan latar belakang berikutnya. (KEMBALI KE LATAR BELAKANG)