Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player


PEMBANGUNAN DI TANAH BATAK

Segi pembangunan yang mungkin bisa kita bahas dan amati bersama melalui halaman ini adalah pembangunan yang menyangkut kemakmuran rakyat. Rakyat First!!!

Pembangunan tidak harus dilakukan secara besar-besaran, jadi kita bisa menyumbangkan sesuatu yang bagaimanapun kecilnya, untuk bisa membantu agar terlaksana pembangunan besar yang secara gotong royong dapat kita lakukan bersama.  “Lebih baik ada yang kecil dari pada tidak ada sama sekali, dan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Yang jelas kita ada kemauan dan bersedia bekerja tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan berbentuk materi. Siapa tau, kalau kita menginvestasikan gagasan, dan sedikit tenaga dan kasih sayang, suatu saat kita juga bisa ikutan menggali harta karun.


Saya percaya bahwa kesuksesan pembangunan dari suatu daerah atau bangsa harus ditopang oleh kerja sama yang baik (excellent team work) antara  pemerintah dengan rakyat.  Kita rakyat biasa harus bersedia dan bisa berusaha untuk melihat hal-hal positif yang telah ditanamkan oleh pemerintah kita, sekalipun mungkin wujudnya sangat kecil. Mungkin diantara ribuan pemimpin bangsa yang kita anggap “tidak perduli” itu, tentunya pasti ada beberapa jiwa-jiwa tulus dan bersemangat tinggi untuk membangun negeri ini, percayalah.  Sayang, yang berjiwa tulus itu, kadang-kadang memiliki suara yang tidak masuk hitungan (doesn’t count) di pemerintah kita itu.

Memang tidak akan mudah untuk bisa menyanjung pemerintah setempat di Tapanuli saat ini (boro-boro menyanjung, membicarakan mereka saja sebenarnya sudah kesal), dengan melihat kenyataan pembangunan yang terjadi (atau tidak pernah terjadi) sama sekali. Saya sendiri yang jauh-jauh dinegeri orang saja sangat kecewa, dan buat saya pribadi sebenarnya gampang saja untuk tidak mau perduli, karena saya tidak tinggal di Tanah Batak. Tapi saya sangat “perduli”kayaknya tidak mungkin tutup mata, itulah sebabnya saya hadir bersama Project Tapanuli; INGIN BERPARTISIPASI TANPA MENILAI PEMERINTAH!!  Saya ingin kembali ke Bonani Pasogit, bukan untuk mengabdi ke pemerintah, tapi saya ingin berbagi apa yang saya miliki dengan penduduk setempat (Sir pok pok, bagi dos as amok-mok), siapa tahu dengan cara ini mereka bisa menjalani hidup yang lebih sempurna dari yang sekarang. Saya tidak mau "berbagi dos asa mok-mok" dengan orang-orang yang sudah bonjolon, orang-orang yang bisanya hanya duduk dikursi putar dari kulit sambil menghembuskan asap jisamsoenya di udara.....I don't care about them. Tapi saya perduli dengan teman-teman ibu almarhumah, yang saat ini mungkin masih martiga-tiga (jualan) di pasara Parongil, Sidikalang, Siantar atau Tobasa. Teman Amanta parsinuan, yang mungkin masih mati-matian mencangkul di ladang atau di sawah, sekalipun sudah tua bangka.

Project Tapanuli hadir, bukan untuk cari nama, tapi ingin menghapus air mata saya kalau saya kembali ke negeri ini, dan juga air mata dari orang tua lainnya, yang selama ini mengharap kehidupan yang lebih makmur dari kehidupan sebelumnya.  


Dengan perjalanan beberapa kali kembali ke Bonani Pasogit, ternyata Tanah Batak (secara keseluruhan), bukan malah tambah maju di abad ke 21 ini, malah tambah mundur (ekonomi yang runtuh).  Waktu saya masih dikampung dulu, rakyat kayaknya cukup makmur, ada pasar, ada lapangan sepak bola, ada tempat main badminton anak-anak, ternyata tempat-tempat seperti itu saat ini banyak yang digarap menjadi pertanian jagung, atau kopi. KENAPA?? Apakah ini usaha pemerintah kita untuk meningkatkan transmigrasi ke kota?

Terus terang, saya tidak mengerti system apa yang dipakai pemerintah di  negeri ini. Dalam satu hal, pemerintah kita secara mati-matian ingin mengurangi transmigrasi ke kota akan tetapi secara kontras  menghancurkan fasilitas-fasilitas yang sudah ada di desa-desa kecil, seperti tempat bermain bola atau lapangan lainya untuk anak-anak muda, yang membuat penduduk ingin pindah ke metropolitan mencari kesenangan baru dalam hidup. Kalau di Jakarta itu anak-anak muda memiliki fasilitas yang sangat memadai,  didesa perpustakaan saja tidak ada.  Apakah pemerintah mengangap bahwa anak-anak didesa sama sekali tidak punya keinginan untuk maju?

Dulu waktu saya menjadi murid SMPN Parongil, saya selalu aktif dalam banyak kegiatan: Olah raga, music, pramuka, pertanian, dll. Disekolah  itu saya menjadi anggota pemain “Drum Band”, yang dipimpin oleh seorang bekas anak SMPN juga, dan selalu parade setiap tanggal 17 Augustus. Sayang, begitu si ito itu mengundurkan diri, akhirnya “Drum Band” harus istirahat, dan saya tidak tau lagi beritanya setelah saya meninggalkan  Tanah Batak.  Di SMPN Parongil itu juga dulu ada ruang musik, dilengkapi dengan drum, gitar, seruling, terompet, dan harmonica. Kita diperbolehkan latihan pada jam-jam istirahat. Alat-alat olah raga juga sangat memadai saat itu. Yang jelas, penduduk Dairi kelihatan sangat makmur.  

Saya juga masih ingat Pasar Parongil, hanya sekali seminggu pada hari Rabu saja, tapi seru dan betul-betul “super market” buat penduduk setempat, dimana orang-orang biasa memiliki kesempatan untuk menjual hasil-hasil pertanian untuk sebagai penghasilan tambahan, misalnya menjual jagung, salak, durian, singkong, talas, ikan mas, dan lain sebagainya. Menurut berita dari teman di kampung, pasar yang lama dipindahkan ke tempat yang baru, tujuanya pun tidak jelas kenapa, pada hal lokasi dari pasar yang baru tersebut, tidak begitu jauh dari pasar yang lama.  Beberapa hari yang lalu saya dikirimkan photo-photo dari Parongil, yang sangat mengejutkan. Ternyata Pasar yang mewah dulu telah disewakan kepada rakyat setempat, jadi tempat pembangunan beberapa rumah –rumah sederhana, dan sebagianya lagi digarap menjadi pertanian kangkung,  jagung dan lain-lainya.  PASAR YANG BARU????  Nunga mate-matene (buat yang tidak berbahasa Batak: Pasar yang baru itu sekarang udah sekarat), tinggal tunggu ajalnya saja.  Terus orang desa yang ingin berdagang untuk melanjutkan kehidupan itu dimana sekarang? Pantesan ekonomi Tanah Batak hancur-hancuran. Pasar  saja sudah dicuri dari rakayat, WHAT NEXT???????????????? Rumah-rumah rakyat mungkin?

Mendengar situasi begini, rasanya hati ini memang marah sekali .........!!!!!!! Kecewa setengah mampus. Dengan kekayaan alam yang begitu memadai, kata “miskin” itu mustinya tidak exist di kamus Tanah Batak. Tapi apakah gunaya marah?? Sebagai rakyat, kita harus mampu memberikan suara, tapi suara kita itu mustinya haruslah suara yang bisa didengar, sura yang jelas, suara yang bisa dimengerti, suara yang mempunyai makna, suara yang punya wibawa dan arti serta tujuan.  Jangan kita memberikan suara kepada pemimpin secara ganas, dan berteriak-teriak. Semestinya, janganlah kita buka suara rame-rame seperti mengadakan demo-demo yang tidak terarah, karena yakinlah, suara yang dilakukan secara berteriak-teriak apalagi kalau dilakukan secara rame-rame dan marah, sering tidak mencapai kuping sipendengar.  Yang perlu mendengarnya juga mungkin secara spontan jadi tuli, karena badan dan jiwanya sudah tegang ketakutan diserbu.  Memang penting kita secara rame-rame harus menjukkan rasa perjuangan secara demokratis dan bisa memberi suara rame-rame, tapi janganlah dengan kemarahan dan kekejian. Kalau mungkin, sebaiknya kita bisa mencari seseorang sebagai representatif kita, seseorang pemuka rakyat, seseorang yang peduli kebutuhan rakyat, seseorang yang tidak duduk di pemerintahan. Orang tersebut harus bisa dipercaya, punya wibawa dan rasa percaya diri, serta intelligent. Masa sih kita ngga punya di Tanah Batak?

Jadi, kesimpulanya adalah: CINTA TANO BATAK? DO SOMETHING AMAZING TODAY!!!!.....That’s what I am going to do, with you or alone. But I can only achieve success if I work with you, I know for sure!!

London, 02 March 2009
By Nelly Br-Torus.