Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

PERTANIAN DI TANAH BATAK - KURANGNYA INNOVASI.

Melihat dari segi kesuburan tanahnya, tanah Batak itu sangat subur dan cocok ditanami berbagai jenis tanaman yang bisa dinikmati dan memberikan hasil yang dapat menopang ekonomi dari petani itu sendiri. Namun kurangnya penyuluhan dari pemerintah setempat dalam meningkatkan produktivitas pertanian secara intensive, sehingga rakyat kurang memahami antara hasil pertanian dan pasar nasional maupun internasional.

Seperti beberapa daerah lainya di Indonesia, tanah Batak itu memiliki potensi tinggi untuk memproduksi hasil pertanian dari  berbagai macam, tentunya tergantung dari jenis tanah dari lokasi tani tersebut, suhu udara lokal dan ketinggian dari permukaan laut, dan tentunya kelembaban/banyaknya curah hujan dari daerah tersebut. Mungkin ratusan tahun rakyat Batak itu telah bercocok tanam dari pengalaman, dimana misalnya kopi adalah salah satu tanaman yang mudah ditanam diderah tertentu tapi namun belum tentu bisa memberikan hasil produksi yang sama di daerah lain.

Innovasi pertanian yang saya maksud bukan sekedar mencoba mencari alternatif yang bisa memberikan solusi jangka pendek, namun innovasi dimana rakyat bisa lebih mengerti antara hasil panen dengan situasi pasar. Tapi sayang, jangankan rakyat bisa mengerti pasar internasional, toke-toke (calo-calo) yang membeli langsung dari petani saja hanya berfungsi sebagai wayang (puppet) dari pembeli kelas kakap. Ada berapa orang sih toke-toke di kampung itu mengerti sejauh mana perjalanan kopi Sidikalang atau kopi Siborong Borong itu dalam pasar internasional? Berapa orangkah toke-toke itu mengerti dan turut prihatin bahwa harga-harga dari hasil tani yang dibeli langsung dari rakyat itu bisa berlipat ganda setelah tiba di tempat tujuan di luar Indonesia?  

Pengamatan terakhir yang saya lakukan di sektor pertanian Tanah Batak adalah, rakyat itu saat ini diajari untuk bertani dengan system "istant", dimana keinginan untuk mendapatkan cash crops (hasil tani yang mudah menghasilkan uang kontan), sehingga rakyat cenderung menanam tanaman yang bisa memberikan panen jangka pendek, seperti cabe, jagung, kacang, dan lain-lain.  Pertanian kopi, teh, kemiri, kemenyaan dan lain-lainya dimana mungkin membutuhkan kesabaran, namun begitu menghasilkan dapat bertahan hinga puluhan tahun dan menghasilkan panen secara rutin, perlahan-lahan terlupakan.

Dalam hidup itu saya sering berusaha untuk bisa mengaplikasikan motto "I work to live, not live to work" . Maksudnya bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Kalau di dengar sekilas saja, mungkin motto ini tidak memberikan gambaran yang besar, tapi kalau dianalisa, tentunya "Saya bekerja untuk hidup" berarti sekalipun saya kerja mati-matian cari uang, tapi saya sangat menikmati hidup saya dari hasil kerja keras tersebut. Tapi buat istilah "Saya hidup untuk bekerja"....yah...kerja..kerja....kerja...kerja...ngga pernah dinikmati hidupnya.

Kadang-kadang saya bisa melihat petani Batak itu mengaplikasikan "Hidup untuk bekerja" dalam hidup mereka. Karena selama perjalanan ke tanah Batak itu, saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa hidup mereka sepertinya punya sequence tersediri: Bangun pagi - sarapan ubi atau nasi kalau ada - berangkat ke kebon - pulang makan siang pake ikan asin, atau daging kalau beruntung - istirahat sebentar - berangkat lagi ke ladang dan berada di ladang hingga matahari terbenam - makan malam - istirahat sebentar atau nonton TV kalau ada - tidur - bangun lagi. Perputaran hidup ini berlangsung selama hidupnya, tentunya kecuali kalau mereka memutuskan untuk hijrah ke tempat lain dan menggandrungi usaha lain.

Saya sering berpikir....kenapa ya? Kenapa perputaran hidup itu harus begitu setiap harinya? Orang Batak itu terkenal dengan keuletanya untuk bekerja keras di ladang untuk cari uang buat menyekolahkan anak-anaknya, sehingga dirumah itu sendiripun sering hanya makan singkong atau nasi putih dengan ikan asin hase-hase.  Tapi kenapa harus makan ikan hase-hase?  Inilah salah satu tradisi hidup orang Batak yang tidak saya alami ketika saya masih kecil. Bukan berarti saya lahir dari keluarga kaya, tapi saya telah belajar dari Ayah tercinta bahwa kalau mau makan daging ayam....jangan jual hasil tani untuk membelinya. Pelihara saja beberapa ayam betina dan jantan, lama-lama juga akan punya banyak turunan yang bisa dinikmati dalam jangka waktu cukup singkat. Begitu juga dengan ikan mas tau jahir, kalau punya sawah, pake aja sebagian kecil dari sawah itu untuk memelihara ikan untuk dinikmati keluarga. Begitu juga dengan sayur-mayur...kan bisa ditanam di depan/belakang atau samping rumah. Toh tanah kosong seabrak-abrak ini.  Kenapa harus makan singkong rebus tiap pagi, kalau singkong bisa dibuat jadi godok2, limi2 atau gotuk?  Kenapa ngga makan sayur segar tiap hari, sedangkan pohon singkong yang dijadikan pagarpun bisa menghasilkan sayur segar setiap harinya. Yang paling sedih adalah, petani kopi Batak saat ini tidak lagi menikmati kopi gongseng segar yang di gongseng dirumah......kopi ala Batak....namun mereka telah beralih minum kopi kapal api atau kopi-kopi merek lain yang dibuat dari campuran beras atau  jagung. Oh...lala ....petani Batak....betul-betul hidup untuk bekerja, bukan berkerja untuk hidup. 

Masih ingat waktu kami masih tinggal di Dairi ketika saya masih kecil, setiap hari makan sayur yang berbeda-beda: kangkung, terong, kacang panjang, daun singkong, bayam, labu siam, ketimun, semuanya ditanam disamping rumah.  Begitu juga dengan Singkong, ubi jalar, dan gandum, ditanam bukan untuk di jual semata, namun untuk dinikmati setiap harinya. Masih ingat, tetangga-tetangga pun suka datang kerumah minta sayur atau singkong. Kok ngga nanam sendiri ya? 

Tradisi nanam menanam sendiri ini sangat mengakar dalam diri saya, sehingga sekalipun saya bukan seorang petani dan Tinggal di Eropah, bercocok tanam itu telah menjadi hobby utama saya di musim semi dan musim panas. Dengan kebun dibelakang dan depan rumah saya di London hanya cukup kecil, sehingga saya harus menanam tanaman kesayangan saya dalam pot. Bangga rasanya pada saat-saat udara segar dan hangat, bisa memanen sayur-sayur segar dari kebon sendiri.

Kalau di kota besar seperti Jakarta bisa dipahami kalau orang tidak bercocok tanam untuk dinimati sendiri karena memang jarang yang punya kebon, namun tidak bisa dimengerti kalau orang kampung ngga makan sayur atau daging karena malas dan kurang innovasi dalam hidup.

What a life!!

Nelly Br Torus

09 November 2009