Profil Tamu kita
Dalam beberapa tahun ini, sejak Project Tapanuli lahir pada tanggal 06 Januari 2009 yang lalu, kami telah menemukan dan berhasil berbincang2 dengan beberapa anak dan boru ni raja yang sangat mandiri dan telah berbakti kepada bangsa dan negar Indonesia.
Pertemuan kami dengan tamu-tamu kita disini, melalui berbagai jenis pertemuan, dari dunia maya dan juga di dunia nyata. Dari pertemuan yang direncanakan dan juga pertemuan spontan. Tamu-tamu kami juga berada di lokasi yang berbeda-beda, baik di Tanah Batak, dan daerah lainya. Dari desa hingga ke kota. Kami melihat kesuksesan itu bukan banyaknya harta yang dimiliki semata, namun perjuangan dan dedikasi hidup yang beriringan denan keberhasilan itu. |
Tamu Kita Minggu ini
PAK SAULUS SITORUS, Petani dari Lumban Julu
Oleh : Rosmelina Sinaga
Mendengar kata “bertani” tentunya kita sering membayangkan tanah yang luas dan hamparan sawah yang menghijau dan menguning. Kehidupan yang damai dan berkelimpahan itu tentunya semakin dapat kita lihat secara nyata, ketika kita melihat langsung suasana itu.
Itulah yang dilakukan sehari-harinya oleh bapak Saulus Sitorus, petani tua yang tinggal di lintas Sumatra, daerah Lumban Julu, Kabupaten Tobasa itu. Bapak Saulus Sitorus telah menghabiskan hari-harinya bertani di desa ini, sejak dari masa mudanya, ketika bahu dan tanganya masih kekar, dan hingga masa tuanya sekarang, dimana kulit tubuhnya sudah kelihatan mulai mengering dan keriput. |
 |
Masih ingat ketika pak Saulus Sitorus mengatakan bahwa memandangi keindahan desa yang hijau itu sangat menyenangkan dan membuat jiwa kita damai, namun itu tentunya bersifat sementara, terutama buat mereka yang hanya datang berkunjung. Pada umumnya para pendatang, apalagi mereka yang tinggal di kota, tidak mudah untuk bisa menetap didesa.
Bapak Saulus Sitorus dilahirkan di Padang pada tanggal 16 Pebruari, tahun 1954. Di Lumban Julu dia dikenal sebagi Oppu Rebekka Sitorus, dimana beliau sekarang sudah memiliki cucu, dan cucu yang pertama bernama Rebekka. Kalau dibandingkan dengan petani-petani lainya di Lumban Julu, pak Saulus termasuk penduduk desa yang sangat beruntung, karena selain bertani, beliau juga berasal dari keluarga wirausaha, dimana dia dilahirkan dari keluarga tukang kayu (carpentary), ayah beliau dimasa hidupnya memiliki usaha membuat peti mati.
Sekalipun keadaan ekonomi keluarganya yang lebih memadai dari keluarga lain di desa tempat tinggalnya, pak Saulus Sitorus tetap memiliki jiwa yang merendah dan bahkan sering mengakui bahwa dia hanyalah seorang petani yang bodoh dan miskin. Dia mengakui bahwa kesederhaan orang tua beliau telah menjadi penghalang untuk dirinya mengecap pendidikan tinggi seperti teman-teman sebayanya. Namun pada masa mudanya, dia sangat beruntung bekerja menjadi pegawai sekolah Dasar Negeri di Lumban Julu, dimana dia menemukan seorang gadis cantik pada tanggal 4 Desember 1975, boru Siahaan yang telah mendampinginya puluhan tahun dan dikaruniai anak dan cucu. Berdasarkan cinta kasih yang sangat luar biasa pasangan Sitorus/br Siahaan memutuskan untuk menggantungkan hidupnya dengan bertani.
Dia masih ingat dengan jelas ketika anak-anak masih kecil, dia harus mengantarkan mereka ke sekolah dan setelah itu dia harus mengantar binatang peliharaanya (kerbau) mencari lapangan rumput yang hijau, dalam bahasa Batak ini disebut “jampalan na lomak”. Semasa mudanya kedua pasangan suami istri tersebut berjanji bahwa sekalipun hanya hidup sebagai petani, namun anak2nya harus meraih pendidikan layak, dana kalau bisa harus menjadi sarjana. Dia merasa bahwa kadang-kadang perasaan frustasi dalam masa mudanya telah membuat daya juang hidupnya lebih tinggi dan keinginanya untuk sukses juga sangat tinggi. Sekalipun saat ini masih tetap berjuang menjadi petani, namun cita-citanya yang menginginkan agar anaknya menjadi sarajana, telah terkabul. Kelima anaknya sekarang sudah lulus dari universitas negeri.
Sekalipun anak-anaknya semua sudah menjadi sarjana, namun pak Saulus Sitorus tidak ingin berhenti menjadi petani, menggembala kerbau dan membajak sawah miliknya secara tradisional. Dengan bangga dia mengatakan bahwa menjadi petani juga kita bisa meraih kemakmuran dan dia mengakui, bahwa hasil-hasil pertanianyalah seperti: kopi, bawang, kacang, jagung, coklat, dan lain-lainya yang memberikan dia uang untuk menyekolahkan anak2nya.
Sebagai petani yang hanya hidup di desa, pak Saulus Sitorus juga punya prinsip-prinsip keren, dimana beliau juga menyadari pentingnya pertanian organik. Dia sadar bahwa pertanian organik, selain baik untuk tanah, namun sangat bagus mengurangi pengeluaran untuk membeli pupuk. Dia mengakui bahwa hanya memiliki tiga ekor kerbau dan beternak babi secara kecil-kecilan saja, telah memberikan dia bahan yang cukup bagus dan cukup untuk mengelola pupuk kandang secara kecil-kecilan. Dia mengakui bahwa adanya pupuk kandang dari kotoran dari binatang peliharaanya telah memberikan topangan untuk meningkatkan produktifitas pertanianya. Dia juga mengatakan, bahwa seandainya dia selalu bergantung dengan pupuk kimia dalam menangani pertanianya, maka tidak mungkin dia menabung dan menyekolahkan anak-anaknya semuanya hingga Sarjana. Secara intelligent, dia juga meneliti sawahnya dan membuat perbandingan dengan sawah petani-petani lainya didesanya, dimana sawah-sawah lain telah mulai kurang produksinya karena kebanyakan mempergunakan pupuk kimia dimasa lalu, sehingga sawah sudah lelah dan PH tanah sudah tidak bagus lagi. Dengan adanya usaha dia untuk memakai pupuk organic seadanya, dia mengakui effeknya dalam produktifas pertanianya dan juga kondisi tanahnya. |

|
Ketika ibu boru Siahaan bercerita mengenai perjalanan hidupnya bersama pak Saulus Sitorus, dia mengakui bahwa menjadi petani itu harus sabar dan harus tidak bisa separoh hati. Dia bilang bahwa pada umumnya petani di Tanah Batak itu menjadi petani bukan karena belajar jadi petani, namun karena kurangnya pendidikan dan access dan modal untuk menggandrungi usaha lain, sehingga bertani menjadi pilihan akhir. Dengan ekspresi yang menunjukkan kekecewaan atas kurangnya kesempatan untuk maju buat para petani kita dihuta, dia mengatakan bahwa dia bersama pak Saulus bekerja keras mati-matian bertani, agar dia bisa menyekolahkan anaknya menjadi sarjana agar mereka tidak pernah menjadi petani.
Dia mengatakan bahwa petani di Tanah Batak itu memiliki hidup yang sangat susah dan pahit dan penuh penderitaan.
|
Ketika kami berkunjung ke rumah pasangan suami istri yang baik hati ini, kami dijamu makan siang, dimana beliau telah menyediakan lauk-lauk dan sayuran diatas meja, dia menceritakan bahwa semua sayuran yang disajikanya hanyalah sayuran yang dipanen dikebunya sendiri. Sayuran ini ditanam diantara tanaman pertanian utamanya, misalnya diantar pohonan kopi, coklat atau jagung. Dengan bangga dia mengatakan, bahwa menjadi ibu rumah tangga dan bendahara dari keluarga tersebut, dia telah mampu menabung sedikit, karena mendapatkan sumber sayur dari ladang sendiri telah mengurangi pengeluaran belanja rumah tangga dan memungkinkan dia untuk menabung. Diladangnya dia bisa menanam tomat, sayur, cabe, jahe, dan lain-lainya.
Dia sadar bahwa penghasilan sebagai seorang petani dinegeri ini, sebetulnya tidak cukup untuk menutupi kebutuhan keluarga sehari-hari apalagi harus menyekolahkan anak-anak juga. Membeli garam dan gula sajapun sudah sangat bersyukur dan ini bisa dilakukanya karena dia tidak perlu lagi membeli sayuran dan bumbu2, karena ini semua sudah mereka tanam di pekarangan rumah ataupun disela2 kebon kopinya. Strategi hidup dan kecerdasan berpikir seperti ini tentunya hal yang harus kita kembangkan di Tanah Batak, karena kehidupan yang berlandasakan gengsi, sangat tinggi di negeri kita ini, sehingga rakyat cenderung membeli-beli apa saja yang dibutuhkan, sekalipun kebutuhan itu bisa ditanam sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan gengsi inilah yang membuat banyak orang harus meminjam uang dan petani-petani kita sering tenggelam dalam utang.
Secara santai kami berbincang2 mengenai kondisi pertanian kita saat ini di Indonesia. Dia mengakui bahwa kondisi pertanian kita dari dulu dan saat ini sangat tidak ada kemajuan. Petani yang sangat miskin dan menderita. Kemiskinan dan pernderitaan ini mungkin lahir dari banyak petani yang tidak menyadari kemampuanya untuk maju, atau mungkin juga kurangnya modal untuk menjadi petani yang lebih produktif. Dia mengatakan bahwa bertani itu tidak mudah, tidak bisa separoh hati dan harus punya dedikasi tinggi. Petani harus bisa menumpahkan semua perhatinya untuk sukses jadi petani dan juga harus punya cita-cita untuk maju.
Beberapa kali kami bertemu dengan bapak Saulus Sitorus, beberapa kali itu pula kami menemukan dia dengan seragam petaninya, baju yang berwarna coklat tua karena selalu dilumuri lumpur J. Namun sekalipun dia harus bergelut dengan lumpur setiap harinya, semangat hidupnya sangat tinggi dan kebanggaanya telah bisa menyekolahkan anak-anaknya dari hasil pertanianya telah menjadi kesuksesan besar untuk dirinya dan istrinya.
Ketika aku menanyakan kepada ibu Boru Siahaan, bagaimana caranya agar hidup didesa itu lebih senang dan bisa dinikmati. Dia berpesan kepada kita semua bahwa nikmatilah hidup ini dan hiduplah sederhana dan sehat. Tanamalh sayuran dan pohon buah2an di ladang dan sekeliling rumah kita agar kita menikmatinya untuk kebutuhan keluarga. Kalau kita bisa mengindari pengeluaran untuk membeli sayuran dan buah, secara otomatis kita bisa menabung dan bisa menutupi biaya lainya. Dalam hidup ini banyak hal-hal yang tidak mungkin kita tanam di ladang, dan kita harus membelinya. Namun banyak hal-hal yang bisa kita tanam di ladang, kita harus melalkukanya, kenapa tidak, ujarnya sambil tersenyum dengan bangga, karena tentunya dia telah melakukanya. Saya teramat bangga telah mendapat kesempatan kesempatan untuk bertemu dan berkenalan dengan keluarga Saulus Sitorus/Boru Siahaan dan dari beliau berdua saya sudah banyak belajar dan mengerti mengenai kehidupan pertanian di Indonesia.
Tulisan ini saya muat karena keinginan saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman, terutama para kaum muda yang sering memandang pertanian itu sebagai professi yang sangat rendah. Disini tentunya kita bisa sambil belajar dan mungkin saling mengingatkan bahwa bertani itu bukanlah professi rendah, dan kalau sebetulnya didalami, bertani itu bisa membuat seseorang menjadi sangat makmur, seperti yang kita lihat di Negara-negara maju. Semoga tulisan ini bisa mengetuk hati para pembaca, kiranya di Tanah Batak, banyak kesempatan untuk maju buat para petani, namun kita harus bisa merub ah pola pikir (mind set) mereka, agar mereka tidak selalu berpendapat bahwa petani itu adalah miskin dan akan selalu hidup miskin.
Mari kita rame-rame mengembangkan pertanian Indonesia melalui kesadaran.
Rosmalina Br Sinaga
Boru Batak yang sangat rindu dengan kemajuan pertanian Indonesia. |
|